|
Sudah enam hari ini saya menjalani ujian kesabaran, tak tau lagi harus mencurahkan kesah ini pada siapa. Yah akhirnya hanya seperti ini yang bisa saya lakukan, blogging sambil menahan rasa sakit yang seakan tidak memberi ampun. Dari awal saya merasakan ada yang aneh pada sakit ini, meski tergolong penyakit yang ringan dan tidak berbahaya namun obat-obat yang diberikan belum juga menunjukkan kondisi yang membaik.
Diagnosa dokter menyatakan bila saya hanya butuh istirahat dan mengkonsumsi obat sesuai aturan dan everything I do tapi hasilnya belum terlihat. Kemarin saya masuk ke kamar rawat inap RSUP Fatmawati kelas II, disini pelayanan cukup baik, suster-susternya juga masih muda-muda [cantik, -Red] namun hingga hari ini [dua hari rawat inap] belum ada perkembangan dalam diri saya. Sebenarnya saya sakit apa? Itulah pertanyyan yang hingga saat ini belum terjawab. Diluar konteks penyakit, saya di Jakarta adalah seorang diri dan tidak mempunyai sanak family. Dengan melihat kondisi diatas tentunya saya hanya bisa mengandalkan orang-orang terdekat untuk membantu proses penyembuhan [administrasi rumah sakit]. Sejak mulai sakit hari kamis lalu saya sebenarnya masih mengandalkan diri sendiri untuk mengurusi segala sesuatunya. Beberapa kali pergi ke rumah sakit tanpa ditemani oleh siapapun. Untuk makan dikosan saya juga masih memembeli makan sendiri meski jalan sambil menahan nyeri yang teramat sangat. Kemarin pada saat mendaftar untuk rawat inap di RS Fatmawati saya terpaksa meminta bantuan teman kantor. Ini terpaksa saya lakukan karena rasa sakit sudah tidak bisa ditolerir dan terangat amat. Kebetulan aku minta tolong ke teman sekantor yang IT juga, nanum sebelumnya aku pastikan dulu bahwa system running well, tiap beberapa menit aku juga sms / telp ke kantor untuk menanyakan kondisi system. Syukur alhamdulillah tidak terjadi masalah hingga proses registrasi rawat inap selesai. Agak sore saya menerima sms yang intinnyya adalah mengingatkan bahwa saya tidak bisa mengandalkan teman-teman dikantor untuk mengurusi saya. Dan saya juga disarankan untuk menghubungi keluarga dikampung agar ke Jakarta saja. Dari sini saya dapat membaca pesan karena sama sekali tidak ingin membuat repot orang sekantor hanya gara-gara urusan yang jelas-jelas pribadi. Tapi memang sebaiknya saya diingatkan karena memang daripada nantinta saya akan merepotkan semua orang. Apa sih yang saya rasakan? Saya sangat menyesalkan kondisi ini terjadi, saya tidak tau apa sebenarnya yg saya derita hingga obat-obat yang duperkirakan manjur belum juga memberikan harapan lebih baik. Ingin rasanya menangis, tapi nampaknya rasa gensi masih ada, sehingga rasa ini hanya menjadi gejolak batin dan hanya saya saja yang mengetahuinya. Dihadapan orang lain atau bahkan teman-teman saya masih tertawa bercanda seperti biasa layaknya orang sehat, bahkan ketika pertama kali masuk ke ruangan saya langsung mendapat komentar dari pembesuk yang meragukan sakit yang saya derita. Apapun itu saya yakin ini adalah ujian daripada hidup saya dan pastinya memang yang terbaik bagi saya menrut kehendak-Nya. Amin.
|