|
Written by pnyet
|
|
Page 1 of 2  Malam telah begitu larut, cerita ini dimulai tepat pada pukul 1:24am. Sepulang dari kantor tiba-tiba saja perasaanku mendadak tidak enak, resah dan gelisah. Banyak hal yang telah saya raih namun itu tak menghapuskan kegusaran hati.O iya, ketika menulis ini saya juga hanya ditemani secangkir energen dan Mas Melwin yang kebetulan online sambil membetulkan laptopnya Carla (rekan kerja).
Tak terasa habis bulan ini adalah tepat 1 tahun saya bekerja di Jakarta, selengkapnya dapat dilihat di profil . Selama itu pula saya berjuang untuk tetap menginginkan seseorang yang sangat saya sayangi, tentu saja selama satu tahun ini saya memadatkan kegiatan agar penantian panjang ini tak terlalu menjadi beban. Pekerjaan adalah pelampiasan utama saya untuk melupakan hal-hal yang dapat membuat saya sedih seketika. Sering kali saya pulang hingga malam hanya untuk membaca-baca artikel-artikel di internet. Dari awal ke Jakarta hingga saat ini status saya belum berubah, awalnya single sampai sekarangpun masih single. Setelah putus hubungan atau lebih tepatnya mengikuti syari'ah islam yang tidak memperbolehkan pacaran pada lebaran tahun lalu dengan Rui maka sayapun bertekad untuk mengesampingkan pacaran dan berkonsentrasi pekerjaan dan serius kuliah. Tak bisa dipungkiri bahwa ada unsur alibi diantara kedua alasan diatas meskipun memang saya ingin fokus dulu pada pekerjaan dan kuliah. Malam ini saya kembali teringat saat-saat dimana kami berdua menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol (masa-masa SMA), waktu itu saya yang bersekolah di SMKN 1 Blitar dan Rui yang menjadi siswi di SMA 1 Talun senantiasa main ke SMK hanya untuk melihat kegiatan anak-anak Nirwanapala (organisasi pecinta alam di sekolah) dan sekalian menemuiku untuk bercerita tentang apa yg ingin diceritakannya. Hal yang paling berkesan dimata saya adalah, Rui memang anak yang sangat santun. Setiap kali bertemu entah itu Rui yang menemui saya ke sekolah atau saya yang datang ke kosnya tanganku tak pernah luput diciumnya. Ciuman itu sama seperti halnya seorang anak yang mencium tangan kedua orang tuanya ketika hendak pergi atau ketika datang dirumah. Waktu itu Rui belumlah mengenakan jilbab seperti sekarang ini, ketika memasuki kelas 3 SMU Rui mulai mengenakan jilbab dan saya salut karena dia memang konsisten terhadap komitmen yang ia bangun. |