 Hari ini, Selasa 17 November 2009 seperti hari-hari selasa sebelumnya [tidak ada yang spesial]. Bener-bener tidak ada yang SPESIAL!!!, dari mulai membuka tas, turn on Sleppy, connecting internet, opening thunderbird email client,opening browser [mozilla, chromium], opening zimbra webmail, read and reply email, lread online magazine, and opening remote client [ssh]. Feewwh bener-bener aktivitas standar, tidak ada masalah di server maupun user membuat hari ini sedikit malas. IT department yang berada di samping sales dan hanya 2 orang standby, kesepian karena ditinggal para sales mengikuti seminar yang diadakan perusahaan. Saking malesnya akhirnya membuka FB sebentar melalui tunnel, dan disitu Saviera menulis "Belajar menerima bahwa MASALAH adalah sesuatu yg WAJAR terjadi dalam hidup...". Ok, let's begin...
Mungkin sebagian besar orang-orang yang ada di friendlist tidak memperhatikan tulisan tersebut, atau bahkan ada yang mencerca dan bergumam makian. Dan saya menjadi ingat akan masalah yang selalu menjadi hitam putih perjalanan ini, tentu saja tak seorangpun yang hidup tanpa masalah. Sekecil apapun itu, masalah pasti akan menghinggapi manusia. Dan saya akan mencoba merangkum beberapa momen yang bisa [awalnya] saya anggap masalah...
Masa kecil saya tidak pernah hidup mewah, minta mobil-mobilan jarang sekali dituruti, bahkan koleksi saya tidak pernah bisa dijajar karena paling banyak hanya satu. Saya tidak berpikir apa-apa selain hanya memikirkan main.. main... dan main, tidak pernah terpikirkan bahwa sebenarnya orang tua saya bisa saja membelikan mobil-mobilan yang lebih banyak, ketika itu saya hanya bisa menangis, ngambek dan selesai. Hidup di desa memang tak banyak pilihan, ke sekolah saya harus berjalan kaki kurang lebih 6 km pulang pergi, dan ketika itu saya hanya bisa berpikir bahwa betapa enaknya mereka yang berangkat dan pulangnya diantar jemput, dan lagi-lagi setelah tiba dirumah saya lupa dengan apa yang saya pikirkan tadi sebelumnya dan tidak pernah berpikir bahwa orang tua saya bisa untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang tua teman-teman saya. Pematang sawah, deretan batu membelah sungai itu seolah menjadi saksi setiap hentakan kaki saya. Kemudian sekitar tahun 94 saya harus pindah ke desa sebelah, kebetulan orangtuaku sedang membangun rumah disana. Kini waktunya meninggalkan si pematang sawah dan batu-batu kali yang selama ini menjadi saksi si pejalan kaki berbaju merah putih. Lumayan, di desa baru hidupku lebih baik, ke sekolah hanya perlu beberapa menit saja dengan jalan kaki. Lebih jelas mengenai saya bisa dibaca di halaman profil.Ketika menginjak SMP dan saya mulai bisa berpikir bahwa seharusnya saya bisa mendapat fasilitas yang lebih dari orang tua saya. Yang sedikit berbeda di SMP saya dibelikan sepeda [bukan motor] dan setiap hari harus mengayuh sepeda sejauh 8 km pulang pergi, menginjak kelas 3 SMP saya lebih memilih jalan kaki karena sepeda sudah mulai rusak. Waktu itu sebenarnya saya bisa diantar jemput karena dirumah juga ada sepeda motor dan ayah juga dirumah setelah kontrak kerjanya di PT Brantas jaya habis. Tapi lagi-lagi saya harus tetap jalan kaki, meskipun saya mulai berpikir bahwa ada diskriminasi, perbedaan perlakukan kentara sekali waktu itu, ya.. saya bisa apa? Hanya merenungi yang seolah-olah menjadi nasib buruk... Waktu terus berjalan, saya memang sudah terbiasa hidup seperti itu, berada dalam serba keterbatasan bahkan kadang kekurangan. Saya ingin mengeksplorasi apa yang ada didalam diri dan bakat saya untuk menjadi electrical engineer namun lagi-lagi harus terpatahkan oleh tidak adanya dukungan, dan harus mencari jalan lain seperti menggelapkan uang spp dan harus puasa jajan sebulan untuk membeli atau membuat sesuatu yang saya inginkan. "Fiuuh, kenapa sih pelit sekali orang tua saya" itulah yang ada dipikiran saya saat itu, mungkin saking emosinya. Kemudian keluarga saya harus dihadapkan pada tuntutan oknum pengacara yang meminta ganti rugi atas MLM (Multi Level Marketing) yang diikuti beberapa orang atas referensi dari ayah saya. Ayah saya pergi keluar kota untuk berusaha mencari uang guna memenuhi tuntutan uang sekitar 24 juta rupiah, terlalu besar bagi keluarga kami yang cukup kecil. Hari-hari itu lebamnya mata Ibu seolah menjadi lauk pauk yang harus disantap setiap bertatap muka, sedih, bingung, takut dan saya hanya bisa bilang "sabar Buk.., sabar..., pasti ada jalan keluar". Di usia saya yang masih 17 tahun harus dihadapkan pada para oknum dan preman yang datang kerumah mencari ayah, emosi? Tentu saja waktu itu kedatangan mereka mengusik ketenangan kami, apalagi nenek langsung jatuh sakit dan terpaksa diungsikan ke rumah Bude di desa sebelah ketika ada yang teriak-teriak di depan rumah dan sayangnya saya melewatkan momen ini. Andai saja waktu itu saya ada dirumah mungkin saja arogansi saya memaksa untuk mengangkat sebilah parang panjang yang senantiasa dibawah ranjang. Saya memang tidak rela bila ada yang mengusik ketenangan keluarga kami, "rawe-rawe rantas malang-malang putung" itulah yang saya pegang hingga saat ini. Masalah diatas selesai muncul lagi masalah lainnya, musim test masuk perguruan tinggi telah tiba saya yang semula berbunga-bunga untuk masuk ke ITS ternyata harus dihadapkan pada kepailitan yang disebabkan oleh masalah sebelumnya. Putus asa, marah, benci dengan keluarga, pergi meninggalkan rumah, murung, seolah menjadi hari-hari setelah saya mengetahui bahwa tidak dapat melanjutkan sekolah. Semuanya saya anggap salah, "brengsek...brengsek..brengsek..." serta suara bantingan pintu kamar ke tembok seolah menjadi hal yang biasa waktu itu. Setelah cukup lama berjalan penuh dengan kemarahan, kebencian, hingga orang tuaku tak pernah menyapaku lagi, hingga ayahku selalu tertunduk ketika harus bertatap denganku. Tidak lantas merasa bangga karena telah menguasai rumah dan seisinya karena tidak ada yang membuatku dapat merasakan bangku kuliah. Kemudian suatu hari aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuaku di ruang keluarga, yang isinya kira begini: Ibu: "Yah, apa yang kita lakukan telah salah, anak yang kita banggakan justru tidak mendapat apa yang diinginkan, bahkan kita nggak pernah mengabulkan permintaannya meskipun bisa". Ayah: "Iya, dari kecil memang sudah diajari untuk hidup serba terbatas, dan mandiri. Mengenai kuliah ya kita bisa apa lagi, uang sudah habis, aku juga sedih bahkan sangat sedih ketika kemarin dia bilang "cuma pengen kuliah saja nggak bisa" rasanya seperti ditusuk-tusuk." Ibu: "Iya, selama ini kita mengajarinya agar bisa hidup dalam keterbatasan, mandiri, dan tahu betapa susahnya mencari uang meski mungkin belum menyadarinya". Ayah: "Ya sekarang kita cuma bisa berharap agar situasi ini membaik, dan ada rejeki agar bisa sekolah lagi" Ibu: "Tapi sekarang kan udah beda, dulu ayah jadi menejer logistik di proyek dan sekarang jadi tukang ojek, gimana selanjutnya?" Keadaan mulai diramaikan oleh isak tangis ibuku, aku kemudian masuk ke kamar dan akhirnya tahu bahwa apa yang telah lakukan telah melukai orang-orang yang paling kuindungi bahkan aku berani mengangkat parang untuk mereka.Semakin sedih, bingung, kalut, malu, terpukul, bodoh sekali saya yang tidak tahu maksud dan tujuan dari perlakukan orang tua saya selama ini. Aku selalu mengungkitnya ketika sedang marah, bertengkar dengan orang tua, seolah itu diskriminasi,namun ternyata semua itu salah, kiini semuanya telah terlambat, aku telah menyakiti orang tuaku. Keadaan menjadi berbalik, yang tadinya aku marah-marah hanya bisa diam dan tertunduk malu, lesu... Lambat laun menjadi bosan menjalani hidup yang seperti itu, aku yang kurang dekat dengan ayah mulai membuka komunikasi dengan ibuku, dalam beberapa hari suasana mencair. Pikiran-pikiran positif mulai menghampiriku, aku harus bangkit, aku harus bekerja dan harus bisa sendiri, kuliah sendiri dan mandiri. Dan gayungpun bersambut... Aku mendapat informasi adanya lowongan kerja di Matahari Dept. Store wilayah Kediri untuk bekerja di divisi time zone nya sebagai electrical enggineer, pas sekali dengan jurusanku yang elektronika komunikasi. Proses demi proses dijalani guna ingin mendapat kerja dan bisa kuliah, mulai dari seleksi lamaran pekerjaan, test IQ lolos dan test tertulis seputar elektronika yang aku pikir mudah dan tidak perlu waktu lama untuk mengerjakannya ternyata malah menjatuhkanku. Dengan emosionalnya aku marah-marah dijalan, kebut-kebutan hingga hampir menabrak orang, mobil, hampir ditabrak mobil, dikejar polisi dan harus sembunyi dirumah orang tak dikenal, setelah aman sayapun kembali melampiaskan kemarahan dijalan, waktu itu tak peduli lagi hidup atau mati meski saya takut ada bagian tubuh saya harus diamputasi bila jatuh.Tiba dirumah saya masih dengan wajah yang kecut, dan masih sempat membanting pintu kamar tanpa memperhatikan tamu yang sedang bercakap dengan ayah dan ibu. Tamu itu adalah alm. Ardy sohib satu desa yang waktu itu sudah bekerja sebagai teknisi komputer di Surabaya, akhir aku dipanggil dan ngobrol ngalor ngidul mulai dari masa-masa di SMP, hingga ingat ketika kami berdua berantem di masjid  . Menutup pertemuan itu saya ditawari ikut training komputer dan selanjutnya bisa bekerja di warnet yang dimiliki lembaga training itu. Setelah negosiasi panjang dengan ibuku akhirnya deal dan aku ikut ke Surabaya, training, dan bekerja sebagai operator warnet seolah menjadi pelipur lara. 3 bulan akhirnya bisa lulus ujian teknisi dan kebetulan memiliki bekal di Wireless Fiedility [WiFi] akhirnya aku bekerja sebagai teknisi jaringan di NetKom Surabaya. Sedikit pikiranku mulai terbuka, dan hampir tidak pernah menganggap masalah-masalah di masa lalu sebagai masalah lagi. Dan mulai tersenyum lagi seperti waktu itu ketika masih harus berbaju merah putih dan berjalan melalui pematang sawah serta melompa-lompat diantara batu kali. Enam bulan bekerja di netkom kini waktunya mempersiapkan diri mencari perguruan tinggin guna melanjutkan cita-cita yang tertunda, sepertinya kondisi perekonomian keluargapun membaik. Pulang ke desa untuk menanyakan kesiapan orang tua saya mengenai dukungan dana untuk kuliah, dan kali ini saya tidak dikecewakan oleh jawaban mereka yang menyanggupi untuk mendaftarkan ke perguruan tinggi. Suasana haitku mengharu biru ketika mendapat jawaban itu, kembali ke Surabaya dengan penuh semangat. Beberapa hari kemudian saya harus kembali pulang ke kampung karena ada yang ingin dibicarakan, yakni mengenai pendaftaran untuk menjadi pegawai bea cukai melalui seorang kenalan ayah yang punya relasi di lingkungan tersebut. Setelah ogah-ogah dan dijanjikan banyak seperti pada saat kampanye pemilu akhirnya aku ikut tanda tangan di surat lamaran serta membayar sejumlah uang, yang uang itu seharusnya bisa untuk mendaftar di perguruan tinggi. Satu dua minggu orang itu masih sering kerumah, dan minggu ketiga udah mulai menghilang lama nggak kerumah nggak ada kabar, dicari susah.... Benar saja orang tersebut melarikan diri, bahkan hingga kini tidak ada kabar beritanya..., fiuuuh lagi-lagi harus terpukul karena gagal mengenyam bangku kuliah. Tidak perlu di ceritakan bak drama / sinetron, kali ini saya sudah eneg dengan masalah-masalah yang ada, sudah biasa dengan kemelut yang ada. Ya sudahlah saya harus terus bekerja hingga benar-benar bisa sendiri, apa lagi yang bisa saya lakukan selain nrimo ing pandum, tapi paling tidak saya punya kesibukan yang bisa menjadi pelipur lara *lagi. Gagal kuliah untuk kedua kalinya membuat saya lebih fokus bekerja dan mendalami bidang teknologi informasi, apa yang saya tanampun akhirnya berbuah tawara kerja di kaltim untuk menjadi teknisi di ISP. Tanpa pikir panjang dan modal nekat saya berangkat ke kaltim hanya berbekal do'a restu. Di Kaltim keinginan untuk kuliah tetap ada, sambil jalan sambil mencari celah agar bisa kuliah, dan ternyata kesempatan jualah yang membawa saya ke Jakarta. Dari obrolan di forum, chatting, bahasan yang aneh-aneh hingga nyleneh ternyata berbuah kesempatan pindah ke Jakarta setelah mendapat tawaran dari Mas Melwin. Akhirnya dengan pekerjaan yang cukup nyaman saya bisa kuliah. Masih ingat, ketika saya harus jalan kaki ketika pulang dan pergi ke sekolah? Apa jadinya jika saya terbiasa diantar jemput? Bukankah menjadi anak yang manja? Bagaima pula ketika keinginan saya selalu dituruti? Bagaimana pula ketika waktu itu saya bisa kuliah? Bagaimana bila waktu itu saya lolos dan bisa bekerja di matahari? Bagaimana bila waktu itu saya menjadi pegawai bea cukai? [korupsi, untuk mengembalikan modal atau membayar hutang?] Tentu saja jawabannya adalah "saya tidak akan bisa sebaik seperti sekarang ini". Permasalahan yang saya hadapi adalah terapi hidup dan tentu saja bisa sebagai pembentuk pola pikir yang menjadikan seseorang mampu mandiri dan berdikari. Saya sendiri tidak berpikir bahwa saya telah cukup sukses mengatasi masalah-masalah tersebut tapi paling tidak saya tahu apa yang harus saya lakukan ketika mengalami masalah tersebut. Dan saya sadar bahwa itu adalah jalan yang harus dilalui, yang sudah menjadi ketentuan a.k.a takdir, Akhirnya saya tahu bahwa jalan kaki itu membuat saya kuat, keterbatasan yang diberikan adalah latihan betapa sesuatu itu harus didapatkan dari usaha. Dan dalam hidup ini Tuhan selalu mempunyai recana lain diluar perkiraan manusia, bila ditarik benang merah maka kegagalan demi kegagalan yang saya alami adalah suatu rentetan yang justru akhirnya membawa saya menemukan jalan keluar. Saya jadi malu  karena telah marah-marah waktu itu..., belajar menerima bahwa masalah adalah wajar merupakan sesuatu yang harus dilakukan sejak dini, agar kemudian terbentuk pribadi yang optimis, berdikari, idealis. Yang tak kalah pentingnya adalah belajar mencari sisi positif dan membalik opini tentang masalah konotasinya negatif dan identik dengan sesuatu yang selalu kita tolak menjadi sesuatu yang dapat dipelajari dan dicari apa yang sebenarnya sedang direncanakan-Nya.... Foot notes: Saya bangga atas apa yang telah dilakukan Ayah dan Ibu yang pada akhirnya saya tau maksud dan tujuan mereka, tanpa mendeskreditkan keduanya saya hanya ingin tidak terlambat untuk menjadi seseorang yang dapat dibanggakan...
|